Mengapa orang Kristen dan Islam masih juga berkelahi? Lihat saja api kebencian itu berkobar di Maluku dan Poso sampai sekarang. Baik kelompok Merah (Kristen) maupun Putih (Islam) masing-masing mengklaim punya hak untuk membunuh kelompok “musuh” atas nama agama. Penyebab konflik ini menurut Bambang Noorsena dapat dirunut dari sisi budaya dan politik.
Secara budaya, keberadaan agama Kristen di Indonesia sangat kental dengan budaya Barat karena kehadirannya dibawa oleh misionaris Barat. Itulah sebabnya kekristenan di Indonesia identik dengan Barat baik itu ajaran maupun liturginya. Sedangkan Islam identik dengan Timur Tengah. Padahal dari sisi politik, antara Barat dan Timur punya sejarah permusuhan yang sangat panjang dan kelam. Jika perbedaan budaya dan politik ini selalu dikorek-korek, maka mustahil Kristen dan Islam bisa berdamai.
Berangkat dari pergumulan ini, Bambang mendirikan Institute for Syriac Christian Studies (1997) yang mencoba menghadirkan kekristenan Timur Tengah sebagai wacana. Tujuannya untuk menjembatani kesenjangan Kristen-Islam, baik pada dimensi teologis (akidah) maupun budaya (ritus/liturgis). Terobosan ini ternyata menghasilkan “kejutan kultural” di Indonesia. Bagaimana tidak, cara ibadah Kristen Ortodoks Syria ini hampir mirip dengan agama Islam. Mereka mengenakan jubah, sorban, dan kerudung; Memakai rebana untuk memuji Tuhan; bahkan dalam pelaksanaan ibadah—termasuk pembacaan Injil—memakai bahasa Arab. (Tidak heran kalau mereka juga fasih membaca Al-Quran).
Salah satu upaya Bambang dalam berdialog ini adalah dengan mencari paralelisme (kesejajaran) antara Kristen-Islam. Dalam hal ini, ia mendapati bahwa ibadah salat lima waktu sebenarnya sudah ada dalam gereja purba. Namanya salat tujuh waktu (asab’ush shalawat). Selain itu di gereja Timur terdapat banyak adab ibadah yang masih dilestarikan Islam. Misalnya pembacaan Alkitab dengan tilawat (ngaji) dan seni kaligrafi yang berkembang di Syria sebelum Islam.
Paralelisme lain, menurut KH. Said Aqiel Siradj, M.A., adalah pada ajaran di bidang Tauhid (keimanan). Agama-agama dari “rumpun Abraham” yaitu Yahudi, Kristen dan Islam sama-sama menuhankan Allah yang Mahaesa serta menegasikan sesembahan (ilah) lain. Perbedaannya hanya dalam sifat dan asma Allah. Jika dalam Islam (Sunni) Kalam Tuhan yang Qadim turun (melalui Muhammad) dalam bentuk Al-Quran, maka dalam Kristen Ortodoks, Kalam Tuhan menjelma (tajassud) dengan Ruh al-Quddus dan perawan Maryam menjadi manusia. Perbedaan ini, kata Said Aqiel, wajar saja dalam dunia teologi, termasuk juga teologi Islam.
Hubungan Islam dan Kristen Ortodoks telah berjalan lama. Hal ini dilatar-belakangi “hutang sejarah” gereja pribumi (Ortodoks Syria dan Koptik) kepada pemerintah Islam. Semenjak gagalnya Konsili Kalsedon (451), kekaisaran Byzantium memaksakan hegemoni kebudayaan Yunani pada gereja pribumi di Mesir dan Syria. Penindasan yang kejam atas sesama Kristen ini dimulai oleh kaisar Yustinus.
Kemudian Islam datang membebaskan mereka dari penindasan. Mulai saat itu, terjalinlah hubungan mesra Kristen-Islam di Timur Tengah. Kendati demikian, ada juga motif ta’ayub (intoleransi) kaum minoritas fanatik yang membakar gereja dan biara. Namun gerombolan pembakar ini dihukum mati Khalifah Islam Nasr Muhammad bin Qala’un (1337 M).
Bagi kita, wacana kekristenan di Timur Tengah ini tidak hanya mengakrabkan persaudaraan Kristen-Islam, tapi sekaligus juga meletakkan landasan kontekstualisasi kesaksian kita di Indonesia. Apalagi mengetahui informasi tentang masuknya Injil yang dibawa orang Kristen Syria ke Nusantara tahun 645 (sebelum Islam datang). Waktu itu di kota Fansur, Sumatera Barat sudah banyak gereja dan orang Kristen yang berasal dari Syria Timur. Jika bisa dilacak lebih lanjut, fakta historis ini bisa mengikis citra bahwa agama Kristen di Indonesia itu sama dan sebangun dengan bangsa Barat.