PERJALANAN MENJADI “AKU”
August 29th, 2007 by keputih
itu menunjukkan adanya perubahan sosial yang mempengaruhi alam pikiran
tiap indifvidu anggota masyarakat pemakai bahasa. Pemakaian kata ganti saya agaknya dianggap terlalu merendahkan diri. Kata saya seperti diketahui berasal dari sahaya yang sama artinya dengan hamba: ‘budak belian’. Orang-orang segenerasi saya atau satu-dua generasi lebih tua setahu saya tak ada
mempergunakan hamba sebagai kata ganti orang pertama.
mengenal kata itu sebagi kata ganti orang pertama hanya melalui teks
sastra yang melukiskan zaman raja-raja. Kata ganti itu biasa digunakan
oleh kawula kerajaan yang berbicara dengan raja, yang kadang-kadang
dapat dipertukarkan dengan kata patik.
melainkan kepada sesama atau yang lebih tinggi kedudukan sosialnya. Dengan mempergunakan hamba, si pembicara menempatkan diri sebagai abdi, budak orang yang diajaknya bicara walau dalam kenyataannya tidak demikian. Pemakaian hamba
hanya menunjukkan bahwa ia menempatkan diri pada kedudukan yang lebih
rendah daripada orang yang diajaknya bicara. Ini tanda bahwa ia
menghormati orang yang diajak bicara itu.
dalam percakapan hanya dikalangan yang sama tinggi derajatnya dan sudah
akrab. Dalam hal ini orang-orang yang berasal dari sumatera lebih mudah
dan lebih umum mempergunakan aku. Belakangan karena pengaruh Jakarta , kata aku pun berubah menjadi gua atau gue.
Kata yang konon berasal dari salah satu bahasa dialek china itu, karena
posisi Jakarta sebagai ibukota yang lebih bergengsi, penyebaran dengan
cepat (terutama melalui kaum muda) ke berbagai penjuru tanah air.
Penyebaran itu diintensifkan melalui sinetron.
lebih suka mempergunakan kata ganti kami uantuk menyebut dirinya sendiri. Mungkin karena ada anggapan bahwa kata ganti saya pun masih kurang halus. Kata ganti kami telah dikenal dalam bahasa melayu, tetapi punya arti berbeda. Kami merupakan
kata ganti pertama untuk orang banyak. Jadi bukan kata ganti diri
pribadi. Boleh juga kata itu digunakan sebagai kata ganti kata ganti
oang pertama tunggal, tetapi khusus hanya oleh raja atau pengarang
dalam kata pengantar bukunya. Makanya, pemakaian kami oleh
orang jawa yang maksudnya untuk lebih merndahkan diri malah dianggap
pendengar yang bukan jawa sebagai kecongkakan yang berlebihan karena
terkesan menempatkan dirinya sama dengan raja.
diantara orang yang sederajat dan akrab. Mungkinkah pemakaian sekarang
dalam bahasa Indonesia sebagai pengaruh dari suku bangsa jawa yang
hendak mempergunakan kata aku seperti dalam bahasanya sendiri?
Entahlah. Tak ada penelitian mengenai hal itu. Kalau benar demikian
menarik bahwa yang diambil dari bahasa jawa justru aku dan bukan, misalnya, kulo yang berasal dari kawulo yang dalam bahasa melayu adalah hamba.
(tunggal) cocok untuk masyarakat feodal kerajaan. Setelah Indonesia
merdeka dan menganut system demokrasi, kata-kata itu bisa dianggap
tidak cocok lagi. Kata aku dianggap dan dirasakan lebih cocok. Saya
jadi ingat salah satu bait sajak Chairil Anwar yang menyatakan bahwa
kita ini bangsa yang “baru bisa bilang aku”.